Close
5 Alasan Kenapa Kita Nggak Boleh Sebaper Itu Soal Politik

5 Alasan Kenapa Kita Nggak Boleh Sebaper Itu Soal Politik

Capek nggak sih kalian, tiap buka medsos tentu ada aja debat panas soal politik? Entah di kolom komentar Instagram, di deretan reply di Twitter, atau timeline di Facebook. Sekarang semua-semua disangkutpautkan sama politik. Iya tahu, ketika ini memang lagi waktu kampanye pilpres. Sebagai penduduk negara yang baik, anda emang udah semestinya ikut menyambut pesta demokrasi ini dengan damai. Jangan malah buat gaduh, sebar kebencian, dan saling memecah belah~

Dari perkara percaya ‘hoax’ yang mana hingga pose potret satu jari atau dua jari yang tiba-tiba dirasakan jadi statement politik, seluruh hal kini seakan-akan tentu punya pesan politik tersembunyi. Padahal yang namanya pose peace dua jari ataupun acungan jempol tersebut sudah lama jadi gaya berfoto tumpuan banyak orang. bukan inginkan ikut-ikutan kampanye terselubung ya. Cuma pengen kupas aja mengapa sih bicara politik kini jadi paling sensitif? Sampai nggak tidak banyak yang jadi musuhan karena pilihan politiknya beda! Duh… yuk lah kita kupas bareng Agen Judi Online Terbaik Populer Terpercaya 2019 !

5 Alasan Kenapa Kita Nggak Boleh Sebaper Itu Soal Politik
5 Alasan Kenapa Kita Nggak Boleh Sebaper Itu Soal Politik

1. Bicara politik di masa kampanye kayak kini memang paling sensitif, sehingga cuma gara-gara lain pilihan politik aja dapat saling bermusuhan!

Saking sensitifnya bahkan pose gunakan dua jari (yang sebenarnya maksudnya “peace“) aja diralat. Ya kayak yang dilaksanakan Luhut itu. Padahal Bu Christine ‘kan hanya pengen pose bebas, Pak~ Karena kejadian ini, publik jadi tidak sedikit yang menyangkutpautkan sama politik. Perdebatan terjadi dimana-mana. Emang sih, bila menurut keterangan dari Pasal 282 UU nomor 7 tahun 2017, pejabat publik tersebut dilarang mengerjakan tindakan yang merugikan atau menguntungkan di antara paslon sekitar masa kampanye, kayak Luhut dan Menteri Sri Mulyani yang terlihat tak mau menunjukkan gaya 2 jari, dan lebih pilih 1 jari aja.

Kalau gaya “peace” nggak boleh digunakan berarti orang-orang Jepang atau Korea yang emang terbiasa gaya gitu pun patut diralat dong ya?

2. Nggak hanya soal pose, menanggapi perbuatan melenceng yang dilaksanakan salah satu kubu aja udah dituduh fans militan kubu lain. Padahal cuma inginkan meluruskan apa yang ‘bengkok’

 

Masih ingat ‘kan kejadian beda yang masih hangat di kepala, soal hoaks Ratna Sarumpaet? Belum lama ini, di antara anggota kesebelasan pemenangan Prabowo-Sandi tersebut terlibat permasalahan persebaran berita palsu. Dia berdusta kalau berakhir dipukuli orang di bandara Husein Sastranegara, Bandung. Padahal wajah lebamnya tersebut hasil operasi. Publik juga heboh dan beramai-ramai mengomentari permasalahan ini. Di mana-mana, yang namanya hoaks tersebut ‘kan nggak dapat dibenarkan. Lah waktu permasalahan kemarin, orang-orang yang nyinyirin Ratna tidak sedikit yang ditudung fans militan kubu sebelah. Padahal ‘kan hanya pengen meluruskan yang ‘bengkok’ aja 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *